Kronologi Hilangnya 500 Ton Beras di Gudang Bulog Pinrang

323

 

foto : ilustrasi/ist

FIPRESS, Jakarta – Sebanyak 500 ton beras di gudang Bulog Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan dilaporkan hilang.

Setelah dilakukan investigasi oleh internal Bulog, Sulselbar, ratusan ton beras itu diduga dipinjamkan ke mitra Bulog yakni CV SMP.

Selain itu, Bulog juga telah mencopot dua orang yang dianggap bertanggung jawab atas raibnya 500 ton beras tersebut.

Dua orang tersebut juga menyampaikan bahwa mitra Bulog itu telah mengembalikan beras yang dipinjam dengan cara mencicil sedikit-sedikit.

Dikutip dari Kompas.com, Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso mengatakan, pihaknya akan mengambil jalur hukum terkait hilangnya 500 ton beras di Gudang Bulog Bittoeng, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan.

Buwas mengatakan, hilangnya beras tersebut lantaran dipinjamkan oleh kepala Bulog di daerah itu kepada mitra swasta.

“Jadi yang 500 itu, ini kan baru kita pinjamkan. Diambil, keterangan dari internal kita katanya ini dipinjamkan. Apapun namanya, itu akan dipertanggungjawabkan secara hukum,” ujarnya saat ditemui usai Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi IV DPR RI bersama Kementan, Bapanas, dan ID Food, Rabu (23/11) kemarin.

Lalu, bagaimana kronologi kejadian hilangnya beras sebanyak 500 ton dari gudang Bulog ini?

Beras 500 Ton Hilang

Dilansir dari Kompas.id, Rabu (23/11), hilangnya beras dari dari gudang Bulog bermula saat pihak Bulog mengecek gudang.

Saat itu ditemukan ada perbedaan antara data dan jumlah stok beras di gudang secara fisik.

Dikutip dari Antara, Selasa (22/11), jumlah stok yang tersimpan dalam gudang setelah didata hanya tersisa sebanyak 1.656.850 ton di dua gudang penyimpanan.

Padahal, semula dalam laporan secara administrasi tercatat stok tersimpan sebanyak 2.199.900 ton. Rinciannya, di gudang 1 sebanyak 880.500 ton dan gudang 2 sebanyak 1.234.400 ton.

Sehingga ada selisih beras yang hilang 462.500 kilogram atau hampir 500 ton.

Penyelidikan lalu dilakukan untuk mengetahui ke mana hilangnya ratusan ton beras dari gudang itu.

Menurut Kepala Perum Bulog Divre Sulselbar, Bakhtiar, berdasarkan keterangan sementara, pemimpin cabang dan kepala gudang menyebut beras tersebut dipinjamkan.

Setelah dilakukan investigasi oleh internal Bulog, Sulselbar, ratusan ton beras itu diduga dipinjamkan ke mitra Bulog yakni CV SMP.

Selain itu, Bulog juga telah mencopot dua orang yang dianggap bertanggung jawab atas raibnya 500 ton beras tersebut.

Dua orang tersebut juga menyampaikan bahwa mitra Bulog itu telah mengembalikan beras yang dipinjam dengan cara mencicil sedikit-sedikit.

Dikutip dari Kompas.com, Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso mengatakan, pihaknya akan mengambil jalur hukum terkait hilangnya 500 ton beras di Gudang Bulog Bittoeng, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan.

Buwas mengatakan, hilangnya beras tersebut lantaran dipinjamkan oleh kepala Bulog di daerah itu kepada mitra swasta.

Namun, informasi lain yang beredar menyebut, beras tersebut dijual kepada mitra Bulog tanpa melalui prosedur seharusnya.

Sesuai aturan, beras yang keluar dari gudang harus tercatat secara administrasi, baik peruntukan maupun jumlahnya.

Diduga raibnya beras ini sudah terjadi sejak September 2022.

”Ada indikasi ini melibatkan orang dalam dan juga mitra. Tapi, sejauh mana keterlibatannya, itu yang sedang kami usut,” ujar Bakhtiar.

“Yang namanya beras keluar tanpa proses administrasi, berarti ada indikasi kejahatan,” lanjut dia.

Bakhtiar menambahkan, setelah kasus diselidiki, ada pengembalian hingga jumlah yang hilang menjadi 460 ton.

Dua Orang Dicopot

Dilansir dari Kompas.com, Selasa (22/11), menurut hasil investigasi internal Bulog, Sulselbar, Bulog telah mencopot dua orang yang dianggap bertanggung jawab atas kasus ini.

Mereka yang dicopot dalam kasus hilangnya 500 ton beras Bulog Pinrang adalah Pimpinan Cabang Pembantu Bulog Pinrang, Radtyo W Putra Sikado dan Kepala Gudang Lampa, Pekkabata, Pinrang, Muhammad Idris

Bakhtiar mengatakan, dua orang tersebut dinilai yang paling bertanggung jawab atas raibnya 500 ton beras dari gudang.

“Keduanya orang yang paling bertanggung jawab atas raibnya beras itu. Dari hasil investigasi kami, menurut pengakuan kepala gudang Bittoeng, Muhammad Idris, 500 ton beras itu tidak hilang, namun dipinjamkan ke rekanan bulog yakni CV SMP. Namun, hingga masih dalam penyelidikan,” terang Bakhtiar.

“Kami memberikan sanksi tegas kepada keduanya. Kami tidak akan melindungi yang namanya kejahatan dalam Perum Bulog,” kata dia.

Libatkan Kepolisian

Bakhtiar mengaku telah berkoordinasi dengan aparat penegak hukum di wilayah Sulawesi Selatan, untuk mengusut kejadian itu.

Kapolres Pinrang, Sulawesi Selatan, AKBP Roni Mostofa, mengatakan, pihaknya juga telah melakukan penyelidikan akan kasus itu.

Jika nanti terbukti ada unsur pidana dalam peristiwa raibnya beras 500 ton, polisi bakal bertindak.

“Kami masih dalam penyelidikan atas raibnya ratusan ton beras di gudang Bittoeng, jika ada unsur pidana dalam kejadian itu, kita bakal lakukan tindakan tegas, seseuai undang-undang yang berlaku,” kata Roni.

Sementara itu, Kepala Unit Reserse Kriminal Polres Pinrang Ajun Komisaris Muhalis mengatakan sudah ada delapan orang yang sedang dimintai keterangan terkait kasus hilangnya beras 500 ton.

”Sudah ada delapan orang yang kami mintai keterangan. Mereka berasal dari pihak Bulog, termasuk gudang dan juga mitra Bulog. Kami belum bisa memberi keterangan banyak karena masih berproses. Tunggu saja perkembangannya,” ucap Muhalis.(*)

*kompas.com, edisi 24 /11/2022, judul tidak berubah

Leave A Reply

Your email address will not be published.